Isnin, 20 Februari 2017

MEMAHAMI TAUHID LAILAHAILALLAH

kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” adalah “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Inilah makna yang selama ini terpatri dalam hati sanubari kita tanpa sedikit pun kita berfikir tentang kebenaran makna tersebut. Karena memang itulah yang diajarkan oleh guru-guru kita pada saat masih sekolah dulu.
Kesalahfahaman ini tidak hanya dialami oleh masyarakat awam, bahkan orang-orang yang dikenal sebagai “cendekiawan” muslim pun salah faham tentang makna kalimat tauhid ini. Buktinya, di antara mereka ada yang mengartikan “laa ilaaha illallah” sebagai “Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar)”.
Untuk Apa Membahas Makna Kalimat Tauhid?
Perlu digarisbawahi bahwa kalimat “laa ilaaha illallah” yang diucapkan oleh seseorang tidak akan bermanfaat kecuali dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya serta mengamalkan konsekuensinya. Hal ini seperti ibadah shalat yang tidak akan sah kecuali dengan memenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak melakukan pembatal shalat. Di antara syarat “laa ilaaha illallah” yang harus dipenuhi adalah seseorang harus mengetahui makna kalimat tersebut.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah” (QS. Muhammad [47]: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga” (HR. Muslim).
Dari dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah tersebut, para ulama rahimahullah menyimpulkan bahwa salah satu syarat sah “laa ilaaha illallah” adalah seseorang mengetahui makna “laa ilaaha illallah” dengan benar.
Tidak Ada “Tuhan” selain Allah?
“Tidak ada Tuhan selain Allah” merupakan makna kalimat “laa ilaaha illallah” yang populer di kalangan kaum muslimin. Dalam hal ini, kata “ilah” diartikan dengan kata “Tuhan”. Namun perlu diketahui bahwa kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia memiliki dua makna.
Pertama, kata “Tuhan” yang identik dengan pencipta, pengatur, penguasa alam semesta, pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan, dan yang dapat memberikan manfaat atau mendatangkan madharat.
Kedua, kata “Tuhan” yang berarti sesembahan. Yaitu sesuatu yang menjadi tujuan segala jenis aktivitas ibadah.
Karena terdapat dua makna untuk kata “Tuhan”, maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” juga memiliki dua pengertian. Pengertian pertama, “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Allah”. Pengertian kedua, “Tidak ada sesembahan selain Allah”. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya kita akan meninjau apakah memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan kedua pengertian tersebut sudah benar serta berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah?
Tidak Ada Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta selain Allah
Memaknai “laa ilaaha illallah” dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” yang berarti “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Allah” adalah pemahaman yang keliru. Berikut ini kami sampaikan beberapa bukti yang menunjukkan kesalahan tersebut.
Dalil Bukti pertama,
Kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Memberi rizki, dan Mengatur alam semesta. Hal ini dapat kita ketahui dari dalil berikut ini.
Allah Ta’ala berfirman
yang artinya, “Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab,’Allah’”
(QS. Yunus [10]: 31).
Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa kaum musyrikin pada zaman dahulu (mengetahui dan) meyakini sifat-sifat rububiyyah Allah, yaitu bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Dzat Yang Memberi rizki, dan Dzat Yang Mengatur urusan alam semesta.
Namun, keyakinan seperti itu ternyata belum cukup untuk memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang bertauhid. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka meskipun mereka memiliki keyakinan seperti itu.
Oleh karena itu, apabila kalimat “laa ilaaha illallah” diartikan dengan “Tidak ada pencipta selain Allah”, “Tidak ada pemberi rizki selain Allah”, atau “Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah”, maka apa yang membedakan antara orang-orang musyrik dan orang-orang Islam?!
Jika orang-orang musyrik itu masuk Islam dengan dituntut mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah” dengan makna seperti itu, lantas apa yang membedakan mereka ketika masih musyrik dan ketika sudah masuk Islam?!
Bukankah ketika mereka masih musyrik juga sudah mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Dzat Yang Memberi rizki, dan Dzat Yang Mengatur urusan alam semesta?!
Bukti kedua,
Konsekuensi dari makna tersebut berarti kaum musyrik pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang musyrik. Demikian pula, segala jenis perbuatan mereka yang menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala berarti bukan syirik.
Hal ini karena konsekuensi dari makna tersebut adalah seseorang tetap disebut sebagai seorang muslim meskipun dia berdoa meminta kepada para wali yang sudah mati, atau berdoa kepada Allah melalui perantaraan (tawassul) orang-orang shalih yang sudah meninggal, atau menyembelih untuk jin penunggu jembatan, selama mereka memiliki keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Memberi rizki, dan Mengatur alam semesta.
Maka sungguh, ini adalah kekeliruan yang sangat fatal. Karena ternyata makna tersebut akan membuka berbagai macam pintu kesyirikan di tengah-tengah kaum muslimin.
Tidak Ada Sesembahan selain Allah?
Makna kedua dari kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah “Tidak ada sesembahan selain Allah”. Namun makna ini juga tidak benar, meskipun secara bahasa (Arab) kata “ilah” memiliki makna “al-ma’bud” (sesembahan).
Hal itu dapat ditunjukkan dari bukti-bukti berikut ini.
Bukti pertama
Makna tersebut tidak sesuai dengan kenyataan atau realita yang sebenarnya. Bagaimana mungkin kita memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan selain Allah”, padahal realita menunjukkan bahwa terdapat sesembahan yang lain di samping Allah?
Buktinya, kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sesembahan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah matahari dan bulan, serta ada pula yang menyembah batu dan pohon. (Lihat Syarh Al Qowa’idul Arba’, hal. 25).
Bahkan dalam banyak ayat pula Allah Ta’ala menyebut sesembahan orang-orang musyrik sebagai “ilah”. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,
“Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan”
(QS. Yasin [36]: 73).
Kesimpulannya, memaknai “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan selain Allah” adalah tidak tepat karena realita menunjukkan bahwa di dunia ini terdapat sesembahan-sesembahan yang lain selain Allah Ta’ala. Bahkan Allah sendiri mengakui bahwa memang terdapat sesembahan selain Dia.
Bukti kedua
Kalimat “tidak ada sesembahan kecuali Allah” menimbulkan konsekuensi yang sangat berbahaya. Karena konsekuensi kalimat itu menunjukkan bahwa semua sesembahan orang musyrik adalah Allah.
Kekeliruan makna “tidak ada sesembahan kecuali Allah” juga dapat dilihat dari konsekuensi yang ditimbulkan oleh makna tersebut. Karena kalimat “tidak ada sesembahan kecuali Allah”, berarti “semua sesembahan yang ada di alam semesta ini adalah Allah”.
Maka Isa bin Maryam adalah Allah, karena dia adalah sesembahan orang-orang Nasrani. Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Latta, Uzza, dan Manat semuanya adalah Allah, karena mereka adalah sesembahan kaum musyrikin pada zaman dahulu. Para wali yang dijadikan sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah adalah Allah juga, karena mereka merupakan sesembahan para penyembah kubur.
Maka jelaslah, bahwa makna “tidak ada sesembahan selain Allah” menimbulkan konsekuensi yang sangat batil. Konsekuensi pertama, Allah itu tidak hanya satu, namun berbilang sebanyak jumlah bilangan sesembahan yang ada di muka bumi ini. Sedangkan konsekuensi batil yang kedua, bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan sesembahan-sesembahan tersebut (aqidah wihdatul wujud atau manunggaling kawula-Gusti).
Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang Tepat – Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah
Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah berkata,
”Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi”
(Lihat Ma’arijul Qobul, 2/516).
Berdasarkan penjelasan beliau rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.
Pertama,
Kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala
yang artinya, “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah itulah (sesembahan) yang batil”
(QS. Luqman [30]: 31).
Kedua,
Dari sisi kaidah bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”.
Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?”
Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat difahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada satu kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab.
(Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)
Dengan pemahaman ini maka kelirulah apa yang diyakini oleh para penyembah kuburan pada masa ini dan orang-orang semacam mereka yang menyatakan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah persaksian bahwa Allah ada atau bahwa Dia adalah Khaliq sang Pencipta yang mampu untuk meciptakan dan yang semacamnya dan bahwa yang berkeyakinan seperti itu berarti dia telah mewujudkan Tauhid yang sempurna meskipun dia melakukan berbagai hal seperti beribadah kepada selain Allah dan berdoa kepada orang mati atau beribadah kepada mereka dengan melakukan nazar atau thawaf dikuburannya dan mengambil berkah dengan tanah kuburannya.
Orang-orang kafir Quraisy telah mengetahui sebelumnya bahwa Laa ilaaha Illallah mengandung konsekwensi yaitu ditinggalkannya ibadah kepada selain Allah dan hanya mengesakan Allah dalam ibadahnya. Seandainya mereka mengucapkan kalimat tersebut dan tetap menyembah kepada berhala, maka sesungguhnya hal itu merupakan perbuatan yang bertolak belakang dan mereka memang telah memulainya dari sesuatu yang bertentangan.
Sedangkan para penyembah kuburan zaman sekarang tidak memulainya dari sesuatu yang bertentangan, mereka mengatakan Laa ilaaha Illallah, kemudian mereka membatalkannya dengan doa terhadap orang mati yang terdiri dari para wali, orang-orang sholeh serta beribadah di kuburan mereka dengan berbagai macam ibadah. Celakalah bagi mereka sebagaimana celakanya Abu Lahab dan Abu Jahal walaupun keduanya mengetahui Laa Ilaaha Illallah.
Keutamaan Laa Ilaaha Illallah
Dalam kalimat Ikhlas (Laa Ilaaha Illallah) terkumpul keutamaan yang banyak, dan faedah yang bermacam-macam. Akan tetapi keutamaan tersebut tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya jika sekedar diucapkan saja. Dia baru memberikan manfaat bagi orang yang mengucapkannya dengan keimanan dan melakukan kandungan-kandungannya. Diantara keutamaan yang paling utama adalah bahwa orang yang mengucapkannya dengan ikhlas sematamata karena mencari ridho-Nya maka Allah ta’ala haramkan baginya api neraka.
Sebagaimana sabda Rasulullah sollallohu ‘alihi wa salam:
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ‪ ‬وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa MENGUCAPKAN LAA ILAAHA ILLALLAAH karena MENCARI WAJAH ALLAH dan ia mati dengannya, ia masuk surga
(HR. Ahmad; shahiih, dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam ahkamul janaa-iz)
Dan banyak lagi hadits-hadits lainnya yang menyatakan bahwa Allah mengharamkan orang-orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dari api neraka. Akan tetapi hadits-hadits tersebut mensyaratkan dengan berbagai syarat yang berat.
Banyak yang mengucapkannya namun dikhawatirkan terkena fitnah disaat kematiannya sehingga dia terhalang dari kalimat tersebut karena dosa-dosanya yang selama ini selalu dilakukannya dan dianggapnya remeh.
Banyak juga yang mengucapkannya dengan dasar ikut-ikutan atau adat semata sementara keimanan tidak meresap kedalam hatinya. Orang-orang semacam merekalah yang banyak mendapatkan fitnah saat kematiannya dan saat di kubur sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits, (yakni ketika ia ditanya di dalam kuburnya), (yang artinya):
“Siapakah Rabbmu? Apa agamamu? Siapakah nabimu?” Adapun orang mukmin akan menjawab, “Rabb-ku Allah, agamaku Islam dan nabiku Muhammad.” Sedangkan orang yang fajir/munafiq akan menjawab, “Ah, ah, aku tidak tahu. Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku ikut mengatakannya.” Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau tidak tahu dan tidak mengikuti orang yang tahu!” Ia dipukul dengan palu besi sehingga menjerit dengan jeritan yang terdengar oleh segala sesuatu, kecuali manusia. (Dalam riwayat lain, kecuali manusia dan jin). Seandainya manusia mendengarnya, niscaya tersungkur pingsan.
(HR. Al-Bukhari di kitab al-Janaiz (1/463), Muslim di kitab al-Jannah wa Na’imiha (4/2200), diriwayatkan pula oleh Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dan lainnya, sanadnya shahih sebagaimana disebutkan oleh para ulama seperti Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa 4/290, Ibnu Qayyim dalam kitab Ar-Ruh hal. 68, al-Qurthubi dalam Tadzkirah hal. 119, lihat Ahwalul Qubur oleh Ibnu Rajab hal. 38-39, dan Fathul Bari III/232)
Dengan demikian maka tidak ada yang bertentangan dengan hadits-hadits yang ada, karena jika seseorang mengucapkannya (Laa Ilaaha Illallah) dengan ikhlas dan penuh keyakinan maka dia tidak mungkin berbuat dosa terus menerus, karena kesempurnaan keikhlasan dan keyakinan menuntutnya untuk menjadikan Allah sebagai sesuatu yang lebih dicintainya dari segala sesuatu, maka tidak ada lagi dalam hatinya keinginan terhadap apa yang diharamkan Allah ta’ala dan membenci apa yang Allah perintahkan. Hal seperti itulah yang membuatnya diharamkan dari api neraka meskipun dia melakukan dosa sebelumnya, karena keimanan, taubat, keikhlasan, kecintaan dan keyakinannya membuat dosa yang ada padanya terhapus bagaikan malam yang menghapus siang.
Rukun Laa ilaaha Illallåh
Laa ilahaa illallah mempunyai dua rukun:
1. An-Nafyu atau peniadaan: “laa ilahaa illallah” membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan kewajiban kekafiran terhadap segala sesuatu yang disembah selain Allah.
2. Al-Itsbat (penetapan): “laa ilahaa illallah” menetapkan bahwa tidak ada yang disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.
Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Quran, seperti firman Allah:
“Karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat…”. (Al-Baqarah:256)
Firman Allah, “Siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari “laa ilahaa illallah” yang pertama.
Apa itu thaghut?
Ath-Thaghut telah didefenisikan oleh para Shahabat dan ulama terdahulu yang mengikuti Najhu us Salaf (di jalan orang-orang salaf) sebagai berikut: “Sesuatu yang disembah, ditaati, atau diikuti selain daripada Allah.” Ibnu Katsiir berkata, adapun ayat Allah yang berbunyi,
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Maksudnya: barangsiapa meninggalkan andad (segala sesuatu yang dianggap tandingan Allah), berhala, dan apa-apa yang diserukan oleh syaithan untuk diibadahi selain Allah lalu dia mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada Nya saja serta bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah,
“Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.”
Maksudnya, sungguh dia telah mantap urusannya dan telah berjalan di atas jalan yang lurus.
Kemudian Ibnu Katsir, menukil dari Umar bin Khaththab bahwasanya thaghut itu adalah syaithan. Dan Ibnu Katsir berkata, “Pendapatnya, bahwa thaghut itu syaithan, adalah pendapat yang sangat kuat karena dia mencakup segala keburukan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yang berupa beribadah, berhukum, dan meminta pertolongan kepada berhala.” (Tafsir Ibnu Katsir, I/311)
Dan pada I/512, Ibnu Katsir mengatakan, “Bahwa orang-orang yang mengatakan seperti perkataan ‘Umar bin Khaththab tersebut adalah; Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, Mujahid, ‘Atha, ‘Ikrimah, Sa’id bin Zuhair, Asy-Sya’biy, Al-Hasan, Adh-Dhahak, As-Uddiy.
Imam Malik bin Anas råhimahullåh berkata:
“At-Thaghut adalah sesuatu yang disembah di samping Allah subhanahu wa ta’ala”
(Diriwayatkan oleh Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi)
Imam Ibnul Qayim råhimahullåh berkata:
“At -thaghut adalah seseorang yang menghormati seseorang melibihi batasan yang seharusnya, apakah seseorang itu menyembah, menaati atau mengikuti.” (Diriwayatkan dalam Thalaathatul Usul)
Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab råhimahullåh berkata: “Tokoh thaghut ada lima: Iblis la’natullah ‘alaih, orang yang disembah dan dia ridha diperlakukan demikian, orang yang menyeru orang lain agar menyembah dirinya, orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, dan orang yang berhukum selain dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
1. Iblis,
Yaitu setan yang terkutuk dan dilaknat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangnya:
“Sesungguhnya laknat-Ku atas kalian sampai hari kiamat.” (Shad: 78)
Awalnya Iblis bersama malaikat, tetapi enggan bersujud kepada Adam ‘alaihissalam. Ketika diperintah untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam itulah tampak kesombongan Iblis.
2. Seorang yang disembah dalam keadaan ridha.
Adapun yang orang yang tidak ridha disembah bukanlah thaghut.
3. Orang yang menyeru orang lain untuk menyembah dirinya.
Dia termasuk thaghut, baik ada orang lain yang mengikuti dakwahnya ataupun tidak. Dia sudah menjadi thaghut dengan semata menyeru orang untuk menyembah dirinya. Termasuk dalam golongan ini adalah Fir’aun dan syaikh-syaikh tarekat Sufi yang menyeru pengikutnya untuk menyembah mereka.
4. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu tentang ilmu ghaib.
Karena ilmu ghaib (yang mutlak) adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, tidak ada yang mengetahui perkara ghaib di langit dan bumi kecuali Allah…” (An-Naml: 65)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi besok; Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang ada di dalam rahim-rahim; Suatu jiwa tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan besok; Dan tidak mengetahui di negeri mana dia akan mati; Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan hujan turun.” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Jum’ah, Bab LaYadri Mata Yaji`ul Mathar illallah)
Maka barangsiapa mengaku mengetahui perkara ghaib berarti telah kafir, karena telah mendustakan apa yang telah diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Termasuk golongan thaghut yang keempat adalah tukang sihir dan dukun-dukun.
5. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.[1. Berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa termasuk kufur akbar yang mengeluarkan seorang dari Islam, dan bisa pula kufur ashghar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Hal ini sesuai dengan keyakinan pelakunya. Karena, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala ada beberapa jenis:
1. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala karena merendahkan dan membenci hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini termasuk kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hal itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan maka Allah menggugurkan amalan mereka.” (Muhammad: 9)
2. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan keyakinan bahwa hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih afdhal dan lebih baik dari hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inipun kufur akbar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin?”(Al-Ma`idah: 50)
3. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keyakinan bahwa hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut sama dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inipun kufur akbar.
4. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala karena meyakini tentang boleh dan halalnya berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inipun pelakunya kafir, karena telah menghalalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.
5. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan masih meyakini bahwa hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih afdhal, dan tidak menyamakan hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hukum-Nya, bahkan ia mengatakan bahwa hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih afdhal dan lebih tinggi. Dia tidak menghalalkan tindakan berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya saja dia berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala semata karena syahwat, jabatan, dan kepentingan pribadi, dalam keadaan yakin bahwa dirinya salah dan sedang berbuat maksiat. Yang semacam ini termasuk kufur ashghar, pelakunya tidak keluar dari Islam. Inilah yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.]
Berhukum dengan hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan termasuk Tauhid Uluhiyyah dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hakim yang sebenar-benarnya adalah termasuk Tauhid Rububiyah. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut orang yang diikuti oleh pengikut mereka -dalam hal yang menyelisihi apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan- sebagai rabb bagi pengikut mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan tukang ibadah mereka sebagai Rabb selain Allah…”
(At-Taubah: 31)
Demikian pula, orang-orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya, mencintai dan membenci karena hawa nafsunya, disebut oleh Allah adlaah orang-orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahannya.
Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua, “laa ilahaa illallah”. Begitu pula firman Allah kepada Nabi Ibrahim:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah’ ” (Az-Zukruf:26)
“tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku” (Az-Zukruf:27)
Firman Allah, “ Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.
Khåtimah
Banyak sekali terdapat hadits yang menerangkan bahwa makna Laa Ilaaha Illallah adalah berlepas diri dari semua ibadah terhadap selain Allah baik dengan meminta syafaat ataupun pertolongan, serta mengesakan Allah dalam beribadah, itulah petunjuk dan agama yang haq yang karenanya Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya.
Adapun orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illahllah tanpa memahami maknanya dan mengamalkan kandungannya, atau pengakuan seseorang bahwa dia termasuk orang bertauhid sedangkan dia tidak mengetahui tauhid itu sendiri bahkan justu beribadah kepada selain Allah dalam bentuk doa, takut , menyembelih, nazar, minta pertolongan, tawakkal serta yang lainnya dari berbagai bentuk ibadah maka semua itu adalah hal yang bertentangan dengan tauhid, bahkan selama seseorang melakukan yang seperti itu dia berada dalam keadaan musyrik !!
Al-Imam Ibnu Råjab Al-Hambaly berkata:
“Sesungguhnya hati yang memahami Laa Ilaaha Illallah dan membenarkannya serta ikhlas akan tertanam kuat sikap penghambaan kepada Allah semata dengan penuh penghormatan, rasa takut, cinta, pengharapan, pengagungan dan tawakkal yang semua itu memenuhi ruang hatinya dan disingkirkannya penghambaan terhadap selain-Nya dari para makhluk.”
“Jika semua itu terwujud maka tidak akan ada lagi rasa cinta, keinginan dan permintaan selain apa yang dikehendaki Allah serta apa yang dicintai-Nya dan dituntut-Nya. Demikian juga akan tersingkir dari hati semua keinginan nafsu syahwat dan bisikan-bisikan syaitan.
Maka siapa yang mencintai sesuatu atau menta’atinya atau mecintai dan membenci karenanya maka dia itu adalah sesembahannya, dan siapa yang mencintai dan membenci semata-mata karena Allah, ta’at dan memusuhi karena Allah, maka Allah baginya adalah sesembahan yang sebenarnya.
Siapa yang mencintai karena hawa nafsunya dan membenci juga karenanya, atau ta’at dan memusuhi karena hawa nafsunya, maka hawa nafsu baginya adalah sesembahannya, sebagaimana firman Allah ta’ala, yang artinya:
“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya ?” (Al Furqon 43)
Demikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,
“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman (yang benar) terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’”.
Maraji’
– Kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan
– Bulletin At Tauhid edisi V/8, M. Saifudin Hakim

– TAUHID & MAKNA SYAHADATAIN, Serta Hal-Hal Yang Membatalkan Keislaman, Abduloh Haidir, Editor Muh.Mu’inudinillah Basri.MA.

Khamis, 5 Januari 2017

RUBUBIYYAH&ULUHIYYAH(MENG ESA KAN ALLAH)

    TAUHID AL-ULUHIYYAH      
        Makna kalimah tauhid
            Tauhid rububiyyah..mengesakan Allah dari setiap perbuatan,penciptaan.
            Tauhid apa itu tauhid:tauhid itu mengesakan Allah taala.(mensatukan tuhan)
            Tauhid itu lawannya Syirik..Dan syirik itu satu dosa besar yg paling besar kerana Allah swt tidak mengampunkan dosa syirik di akhirat kelak. Tetapi Dia menghapuskan dosa selain itu
            Tauhid itu Yg menghidupkan ,yg mematikan ,yg beri rezeki,yg menyempitkan,melapangkan,mmberi petunjuk,menurunkan hujan.
            Al quran .Yūnus:3 - Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menjadikan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Ia bersemayam di atas Arasy mentadbirkan segala urusan. Tidak ada sesiapa pun yang dapat memberi syafaat melainkan sesudah diizinkanNya. (Yang bersifat demikian) itulah Allah, Tuhan (yang memelihara dan mentadbirkan keadaan) kamu; maka tunduklah dan taatlah kamu kepada perintahNya; patutkah kamu - setelah mengetahui kenyataan yang tersebut tidak mahu mengingatiNya?

    Kalimah tauhid membawa pengertian mengetahui, berikrar, mengakui dan mempercayai bahawa sesungguhnya sembahan yang benar dan berhak disembah ialah Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT)  semata-mata. Selain daripada-Nya, sama sekali tidak benar dan tidak berhak disembah. Penghayatan kalimah itu meliputi berikrar dengan hati, menyatakan dengan lidah dan membuktikan dengan perbuatan.

    Tauhid ar-Rububiyyah dan Tauhid al-Uluhiyyah
    Tauhid ar-Rububiyyah bermakna beri’tiqad bahawa Allah SWT  bersifat Esa, Pencipta, Pemelihara dan Tuan sekelian alam. Tauhid al-Uluhiyyah pula bermakna menjadikan Allah SWT sahaja sebagai sembahan yang sentiasa dipatuhi.
    Pengertian lanjut Tauhid ar-Rububiyyah
    Antara pengertian kalimah Rabb (       ) ialah:
    1.    As-Sayyid (Tuan)
    2.    Al-Malik (Yang Memiliki)
    3.    Pencipta
    4.    Penguasa
    5.    Pendidik
    6.    Pengasuh
    7.    Penjaga
    8.    Penguatkuasa.
    Allah jua bersifat mutlak
    Manusia, jika dia bersifat seperti memiliki dan berkuasa, maka sifatnya itu sementara. Segala sesuatu di alam ini kepunyaan Allah. Apa yang dimiliki makhluk hanyalah bersifat pinjaman dan majaz (kiasan). Hanya Allah sebagai Rabb al-’Alamin (Rabb sekelian alam) dan mempunyai segala sifat kesempurnaan. Dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna mengakibatkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, memerlukan pertolongan-Nya dan berharap kepada-Nya.
     
    Manusia, jika dia cerdik, bijak dan pandai, maka semuanya itu datang daripada Allah. Segala kekayaan dan penguasaan manusia bukanlah miliknya yang mutlak tetapi datang daripada Allah.
    Manusia dijadikan hanya sebagai makhluk. Dia tidak memiliki apa-apa melainkan setiap kuasa, tindak-tanduk, gerak nafas dan sebagainya datang daripada Allah.
    Allah, Dialah Maha berkuasa, mencipta, menghidup dan mematikan. Dia berkuasa memberikan manfaat dan mudarat. Jika Allah mahu memberikan manfaat dan kelebihan kepada seseorang, tiada siapa mampu menghalang atau menolaknya. Jika Allah mahu memberikan mudarat dan keburukan kepada seseorang seperti sakit dan susah, tiada siapa dapat menghalang atau mencegahnya.
    Oleh itu hanya Allah sahaja ‘mutafarriq’, bermakna hanya Allah yang berkuasa untuk memberikan manfaat atau mudarat.
    Firman Allah SWT:
    “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
    (Al-An’am: 17)
    Dengan sifat-sifat Allah tersebut, maka timbullah kesan tauhid kepada seseorang. Dia hanya takut kepada Allah, dan berani untuk bertindak melakukan sesuatu kerana keyakinannya kepada Allah.
    Manusia bersifat fakir
    Manusia di dunia ini bersifat fakir (tidak memiliki apa-apa), sebaliknya sentiasa memerlukan pertolongan Allah. Firman Allah SWT di dalam Al-Hadith Al-Qudsi:
    “Hai manusia, kamu semua  berada di dalam kesesatan kecuali mereka yang Aku berikan taufiq dan hidayah kepadanya. Oleh itu mintalah hidayah daripada-Ku.”
    “Hai manusia, kamu semua lapar, kecuali mereka yang aku berikan makan, oleh itu mintalah rezeki daripada-Ku.”
    “Hai manusia, kamu semua telanjang kecuali mereka yang Aku berikan pakaian. Oleh itu mohonlah pakaian daripada-Ku.”
    Sifat fakir dan sifat kaya
    Berhajatkan sesuatu adalah sifat semua makhluk. Manusia, haiwan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lain berhajatkan kepada Allah. Oleh itu semua makhluk bersifat fakir.
    Allah Maha Kaya. Dia tidak berhajat kepada sesuatu. Jika manusia memiliki keyakinan ini maka dia akan sentiasa berbaik sangka terhadap Allah. Firman Allah SWT:
     
    “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (yang tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
    Fakir adalah sifat yang zati bagi setiap makhluk ciptaan Allah.  Kaya adalah sifat yang zati bagi al-Khaliq (Pencipta).
    Dalil-Dalil Tauhid ar-Rububiyyah
    Banyak dalil menunjukkan bahawa Allah itu Maha Esa dan tiada sesuatu menyamai Allah dari segi Rububiyyah. Antaranya:
    1.  Lihatlah pada tulisan di papan hitam, sudah pasti ada yang menulisnya. Orang yang berakal waras akan mengatakan bahawa setiap sesuatu pasti ada pembuatnya.
    2.    Semua benda di alam ini, daripada sekecil-kecilnya hinggalah sebesar-besarnya, menyaksikan bahawa Allah itu adalah Rabb al-’Alamin. Dia berhak ke atas semua kejadian di alam ini.
    3.    Susunan alam yang mengkagumkan, indah dan tersusun rapi adalah bukti Allah Maha Pencipta. Jika alam boleh berkata-kata, dia akan menyatakan bahawa dirinya makhluk ciptaan Allah. Orang yang berakal waras akan berkata bahawa alam ini dijadikan oleh satu Zat Yang Maha Berkuasa, iaitu Allah. Tidak ada orang yang berakal waras akan menyatakan bahawa sesuatu itu boleh berlaku dengan sendiri.
    Begitulah hebatnya Ilmu Allah. Pandanglah saja kepada kejadian manusia dan fikirkanlah betapa rapi dan seni ciptaan-Nya.
    Terdapat seribu satu macam ciptaan Allah yang memiliki sifat yang berbeza-beza antara satu sama lain. Semuanya menunjukkan bahawa Allah adalah Rabb yang Maha Bijaksana .
    Fitrah mengakui Rububiyyah Allah
    Berikrar dan mengakui akan Rububiyyah Allah adalah suatu perkara yang dapat diterima. Hakikat ini terlintas dalam setiap fitrah manusia. Meskipun seseorang itu kafir, namun jauh di lubuk hatinya tetap mengakui Rububiyyah Allah SWT. Firman Allah SWT:
     
    “Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang: Siapakah pencipta mereka? Nescaya mereka menjawab: Allah.” (Az-Zukhruf: 87)
     
    “Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang:  Siapakah pencipta langit dan bumi?  Nescaya mereka menjawab: Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Mengetahui.”(Az-Zukhruf: 9)
    Tidaklah susah  untuk membuktikan Rububiyyah Allah SWT. Fitrah setiap insan adalah buktinya. Manusia yang mensyirik dan mengkufurkan Allah juga mengakui ketuhanan Allah Yang Maha Pencipta.
    Al-Quran mengakui adanya Tauhid ar-Rububiyyah di dalam jiwa manusia
    Al-Quran  mengingatkan bahawa fitrah atau jiwa manusia memang telah memiliki rasa mahu mengakui Allah Rabb al-’Alamin. Firman Allah SWT:
     
    “Berkata rasul-rasul mereka: Apakah terdapat keraguan terhadap  Allah, Pencipta langit dan bumi.” (Ibrahim: 10)
     
    “Dan mereka mengingkarinya kerana kezaliman dan kesombongan (mereka) pada hal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”(An-Naml: 14)
    Keengganan dan keingkaran sebahagian manusia untuk mengakui kewujudan Allah sebagai al-Khaliq (Yang Maha Pencipta), sebenarnya didorong oleh perasaan sombong, degil (‘inad) dan keras hati. Hakikatnya, fitrah manusia tidak boleh kosong daripada memiliki perasaan mendalam yang mengakui kewujudan al-Khaliq.
    Jika fitrah manusia bersih daripada sombong, degil, keras hati dan selaput-selaput yang menutupinya, maka secara spontan manusia akan terus menuju kepada Allah tanpa bersusah payah untuk melakukan sebarang pilihan. Secara langsung lidahnya akan menyebut Allah dan meminta pertolongan daripada-Nya.
    Telatah manusia, apabila berada di saat-saat genting, tidak akan terfikir dan terlintas sesuatu di hatinya kecuali Allah sahaja. Ketika itu segenap perasaan dan fikirannya dipusatkan kepada Allah semata-mata. Benarlah Firman Allah SWT:
     
    “Dan apabila mereka dilambung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan keikhlasan kepada-Nya, maka ketika Allah menyelamatkan mereka lalu sebahagian daripada mereka tetap berada di jalan yang lurus. Dan tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain golongan yang tidak setia lagi ingkar.” (Luqman: 32)
    Sesungguhnya permasalahan mengenai kewujudan Allah adalah mudah, jelas, terang dan nyata. Kewujudan Allah terbukti dengan dalil yang banyak dan pelbagai.


      Tauhid al-Uluhiyyah
      Maksud Tauhid al-Uluhiyyah ialah kita mentauhidkan Allah dalam peribadatan atau persembahan. Allah SWT mengutuskan para rasul bertujuan menyeru manusia  menerima Tauhid al-Uluhiyyah. Firman-firman Allah SWT yang berikut membuktikan hal tersebut:
       
      “Dan Kami tidak mengutuskan seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahawasanya tiada tuhan melainkan Aku, maka kamu sekelian hendaklah menyembah Aku.” (Al-Anbiya’: 25)Pendapat yang paling sahih mengatakan bahwa Dialah yang diseru di langit dan di bumi, yakni Tuhan yang disembah dan ditauhidkan. Semua makhluk yang di langit dan di bumi mengakui-Nya sebagai Tuhan, mereka semuanya menyembah kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Takwil seperti ini semisal dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
      {وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الأرْضِ إِلَهٌ}
      Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi (Az-Zukhruf: 84)
      Yakni Dialah Tuhan semua makhluk yang di langit dan Tuhan semua makhluk yang di bumi. 
      Dengan demikian, berarti firman Allah Swt.:
      {يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ}
      Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan. (Al-An'am: 3)
       
       “Dan sesungguhnya Kami telah utuskan pada setiap umat itu seorang rasul (untuk menyeru): Sembahlah Allah dan jauhilah Taghut.”  (An-Nahl: 36)
      “Dan sesungguhnya Aku telah utuskan Nuh (nabi) kepada kaumnya, lalu dia berkata (menyeru): Wahai kaumku, hendaklah kamu menyembah Allah, (kerana) sesekali tiada tuhan melainkan Dia.”  (Al-Mu’minun: 23)
      “Dan (Kami telah mengutuskan) kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud (nabi): Hai kaumku sembahlah Allah, sesekali tiada tuhan bagi kamu selain dari-Nya.” (Al ‘Araf: 65)
      Cetusan rasa cinta kepada Allah
      Menyembah atau beribadah kepada Allah dapat dilaksanakan apabila tercetus rasa cinta yang suci kepada Allah dan rela (ikhlas) menundukkan diri serendah-rendahnya kepada-Nya. Seseorang hamba itu disifatkan sedang menyembah Allah apabila dia menyerahkan seluruh jiwa raga kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Allah, berpaut kepada ketentuan Allah, meminta (mengharap) serta memulang (menyerah) sesuatu hanya kepada Allah, berjinak-jinak dengan Allah dengan cara sentiasa mengingati-Nya, melaksanakan segala syariat Allah dan memelihara segala perlakuan (akhlak, perkataan dan sebagainya) menurut cara-cara yang diredhai Allah.
      ‘Ubudiyyah yang semakin bertambah
      Pengertian ‘ubudiyyah (pengabdian)penyembahan kepada Allah akan bertambah sebati dan hebat kesannya dalam kehidupan manusia apabila semakin mendalam pengertian dan keinsafannya tentang hakikat bahawa manusia itu terlalu fakir di hadapan Allah. Manusia sentiasa bergantung dan berhajat kepada Allah. Manusia tidak boleh terlupus daripada kekuasaan dan pertolongan Allah walaupun sekelip mata.
      Begitu juga dengan cinta atau kasih (hubb) manusia kepada Allah dan rasa rendah diri (khudu’) manusia kepada Allah yang akan bertambah teguh apabila semakin mantap ma’rifat dan kefahamannya terhadap sifat-sifat Allah, Asma’  Allah al-Husna (sifat-sifat Allah yang terpuji), kesempurnaan Allah dan kehebatan nikmat kurniaan Allah.
      Semakin terisi telaga hati manusia dengan pengertian ‘ubudiyyah terhadap Allah semakin bebaslah dia daripada belenggu ‘ubudiyyah kepada selain daripada Allah. Seterusnya dia akan menjadi seorang hamba yang benar-benar tulus dan ikhlas mengabdikan diri kepada Allah. Itulah setinggi-tinggi darjat yang dapat dicapai oleh seseorang insan.
      Allah telah menggambarkan di dalam al-Qur’an keadaan para rasul-Nya yang mulia dengan sifat-sifat ‘ubudiyyah di peringkat yang tinggi. Allah telah melukiskan rasa ‘ubudiyyah Rasulullah SAW pada malam sewaktu wahyu diturunkan, ketika baginda berda’wah dan semasa baginda mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Firman Allah SWT:
       
      “Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (An-Najm: 10)
       
      “Dan ketika berdiri hamba-Nya (Muhammad) untuk menyembah-Nya (beribadat), hampir saja jin-jin itu mendesak-desak mengerumuninya.” (Al-Jin: 19)
      “Maha Suci Allah yang memperjalankan hambanya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjid al-Haram  ke Masjid al-Aqsa.” ( Al-Isra’: 1)
       
      Tauhid al-Rububiyyah menghubungkan Tauhid al-Uluhiyyah
      Seperti yang telah dinyatakan di atas, Tauhid al-Rububiyyah ialah mengakui keesaan Allah sebagai Rabb, Tuan, Penguasa,pengatur, Pencipta dan Pengurnia secara mutlak. Tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam  Rububiyyah.
      Sesungguhnya kesanggupan dan kesediaan manusia mentauhidkan Allah dari segi Rububiyyah dengan segala pengertiannya akan menghubung atau menyebabkan manusia mengakui Tauhid al-Uluhiyyah iaitu mengesakan Allah dalam pengabdian. Secara spontan pula manusia akan mengakui bahawa Allah sahaja layak disembah, selain daripada-Nya tidak layak disembah walau dalam apa bentuk sekalipun.
      Al-Quran terlebih dahulu memperingatkan orang-orang musyrikin Quraisy  agar mengakui Tauhid al-Rububiyyah. Apabila mereka menerima Tauhid al-Rububiyyah dan bersungguh-sungguh mengakuinya, maka terbinalah jambatan yang menghubungkan mereka dengan Tauhid al-Uluhiyyah. Hakikat ini jelas dan tidak boleh dicuai atau diselindungkan lagi. Firman Allah SWT:
       
      “Apakah mereka mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Sedangkan berhala-berhala tersebut adalah buatan manusia.” (Al-A’raf: 191)
       
      “Apakah (Allah) yang menciptakan segala sesuatu itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapakah kamu tidak mengambil pengajaran?” (An-Nahl: 17)
       
      “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu serukan selain daripada Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu daripada mereka, tiada mereka dapat merebutnya kembali daripada lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pula yang disembah.” (Al-Hajj: 73)
      Ayat-ayat tersebut mengingatkan orang-orang musyrikin mengenai suatu hakikat yang nyata iaitu sembahan-sembahan mereka adalah lemah, malah tidak berkuasa untuk mencipta sesuatu walaupun seekor lalat. Jika lalat itu mengambil atau merampas sesuatu daru mereka, maka mereka tidak berkuasa untuk mendapatkannya kembali. Ini menunjukkan betapa lemah yang meminta dan lemah pula yang dipinta. Oleh itu akal yang sejahtera tidak boleh menerima penyembahan selain daripada Allah. Dalam peribadatan mereka tidak boleh mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Allah adalah al-Khaliq Yang Esa. Selain daripada-Nya adalah lemah dan dhaif belaka.
      Tuhan-tuhan palsu yang tidak memiliki apa-apa
      Al-Quran menghujah dan mengingatkan orang-orang musyrikin bahawa apa yang mereka sembah selain daripada Allah tidak memiliki sebutir atom pun sama ada di bumi mahupun di langit. Malah sembahan mereka sama sekali tidak menyamai Allah walaupun sebesar zarah sama ada di bumi mahupun di langit. Allah tidak mempunyai apa-apa keperluan dengan tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah. Jika mereka menyedari hakikat ini, mereka akan merasai kewajipan untuk beribadat dengan ikhlas kepada Allah semata-mata. Firman Allah SWT:
      “Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak memiliki satu saham pun dalam penciptaan langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’: 22)
      Al-Quran mengakui bahawa orang-orang musyrikin mengiktiraf sebahagian daripada Rububiyyah Allah seperti Allah itu Pemilik langit serta bumi dan Allah itu Pengurus kejadian-kejadian  di langit serta di bumi. Jika begitulah pengiktirafan mereka, sepatutnya mereka beriman dan menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya. Firman Allah SWT:
      “Katakanlah (kepada mereka): Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu tidak ingat?
      “Katakanlah (kepada mereka): Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang empunya ‘arasy yang besar? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu tidak bertaqwa?
      “Katakanlah (kepada mereka): Siapakah yang di tangan-Nya berada segala kekuasaan sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi daripada (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): (Oleh yang demikian) dari jalan manakah kamu ditipu ?
      “Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka dan sesungguhnya mereka sebenarnya orang-orang yang berdusta.”
      (Al-Mu’minun: 84-90)
      Sains dan aqidah tauhid
       
      Penemuan-penemuan dalam bidang sains dan teknologi mengenai alam buana, atom, manusia, tumbuh-tumbuhan dan pelbagai bidang industri telah berjaya menyingkap keindahan dan ketelitian ciptaan Allah. Penemuan-penemuan dan rekaan-rekaan baru itu menguatkan lagi ajaran aqidah tauhid dan meneguhkan lagi keimanan orang-orang mu’min. Hasil-hasil kajian itu menunjukkan kebesaran dan keluasan kudrat serta ilmu Allah. Sesungguhnya di sebalik kehalusan ciptaan dan keindahan sistem sejagat ini pasti ada Penciptanya Yang Maha Basar dan Maha Berkuasa.
      Kedudukan tauhid dalam Islam
      Keseluruhan ajaran Islam berasaskan tauhid. Keseluruhan kandungan al-Quran berlegar di atas tauhid. Kandungan ayat-ayat al-Quran meliputi pengkhabaran tentang Allah, sifat Allah, kejadian Allah, perbuatan Allah dan pentadbiran Allah.
      Al-Qur’an membincangkan tentang al-amr (perintah) dan anbiya’ Allah (nabi-nabi Allah) kerana kedua-duanya ada kaitan dengan penciptaan dan kekuasaan Allah terhadap makhluk-Nya. Al-Qur’an menerangkan segala bentuk balasan baik (pahala) untuk mereka yang mentaati Allah, Rasul dan syariat-Nya. Semua ini untuk mengajak  mereka menegakkan Tauhid al-Uluhiyyah dan Tauhid                 al-Rububiyyah.
      Al-Qur’an menerangkan segala bentuk balasan siksa (dosa) untuk mereka yang tidak mematuhi syariat-Nya, menceritakan tentang keadaan orang-orang zaman dahulu yang telah menderhakai Allah. Semua ini untuk menjelaskan bahawa manusia perlu kembali kepada dasar tauhid dan ibadah kepada Allah.
      Oleh itu tauhid adalah intipati atau asas Islam. Daripada tauhid terpancar segala sistem, perintah, hukum dan peraturan. Semua ibadat dan hukum dalam Islam bertujuan untuk menambah, memahir, menguat dan mengukuhkan lagi tauhid di dalam hati orang-orang mu’min.
      Dengan tauhid seluruh dorongan manusia akan terbentuk
      Dengan tauhid yang kuat, maka akan terbentukkan pelbagai dorongan yang ada dalam jiwa manusia. Dia akan takut hanya kepada Allah SWT dan berani mempertahankan keyakinannya seperti yang dipersaksikan dalam sirah Rasulullah dan para sahabat:
      1.    Rasulullah SAW pernah memerintahkan Ali RA agar tidur di atas katilnya sebelum baginda keluar berhijrah ke Madinah, sedangkan musuh Islam begitu giat mengintip. Namun Sayyidina Ali sanggup berbuat mengikut perintah Rasulullah SAW kerana beliau yakin atas Kehendak dan Kekuasaan Allah.
      2.    Khalid Ibn al-Walid RA pernah mengalami banyak calar dan luka pada badannya kerana berperang di jalan Allah. Namun dia tetap yakin dengan Kekuasaan Allah. Dia tetap meneruskan pertempuran melawan musuh.
      3.    Bilal bin Rabah RA sanggup diheret di padang pasir, dijemur di bawah kepanasan matahari dan diseksa dengan batu besar diletakkan di atas tubuhnya. Dia tetap mempertahankan keimanannya.
      Kini, ramai manusia yang kehilangan keyakinan ini. Mereka masih yakin kepada yang lain daripada Allah. Mereka takut kepada kegagalan, ketua, kematian dan sebagainya.
      Oleh itu menjadi kewajipan bagi pendakwah-pendakwah Islam untuk mengembalikan manusia kepada keyakinan yang betul.
      Syahadah bahawa Nabi Muhammad itu Rasulullah
      Syahadah merupakan teras Islam yang kedua. Syahadah ini menuntut manusia mengetahui, membenar dan menyakini dengan muktamad (dengan i’tiqad yang jazim serta pegangan yang putus) bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah serta membuktikannya dengan perkataan dan perbuatan sekaligus.
      Pembuktian dengan perkataan ialah melafazkan kalimah syahadah itu dengan lidah. Pembuktian dengan perbuatan ialah menegakkan tingkah laku (tatasusila) dan seluruh tindak-tanduk  yang bersesuaian dengan ajaran Nabi Muhammad SAW serta menuruti jejak langkah baginda.

      Manusia memerlukan rasul untuk mencapai kesempurnaan hidup
      Tidak syak lagi untuk mencapai kesempurnaan hidup, manusia bukan sahaja berkehendakkan kepada makanan, pakaian, tempat berlindung dan keperluan-keperluan jasmani yang lain, bahkan manusia juga berkehendakkan sesuatu untuk memenuhi tuntutan roh. Dengan memenuhi tuntutan roh, manusia akan dapat mencapai taraf kesempurnaan sebagai manusia yang mulia dan berbeza dengan makhluk-makhluk yang lain.
      Tugas para rasul adalah untuk memberitahu kepada manusia bahawa Allah
      adalah enciptanya yang layak disembah dan Dialah yang meletakkan manusia di atas jalan lurus (sirat al-mustaqim). Dengan keyakinan ini barulah manusia dapat sampai ke jalan kebahagiaan dan kesempurnaan sebenar.
      Manusia sendiri tidak dapat mengetahui perkara-perkara ghaib mengenai Pencipta dan sirat al-mustaqim dengan menggunakan kudrat dan akalnya yang lemah. Manusia kerap melakukan kesilapan. Untuk memikirkan mengenai Pencipta dan sirat al-mustaqim adalah di luar kemampuan akal manusia. Oleh itu pengutusan para rasul Allah menunjukkan kebijaksanaan-Nya dan merupakan rahmat yang paling besar untuk umat manusia. Para rasul Allah dilantik daripada golongan manusia sendiri supaya mereka dapat menggunakan kebiasaan dan bahasa yang dapat difahami oleh manusia. Seterusnya menyampaikan ajaran Allah, menjelaskan cara-cara untuk sampai kepada risalah-Nya dan menghuraikan cara mana untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
      Sungguh tidak patut sikap manusia sekiranya dia mengingkari Rasul Allah SWT. Firman Allah SWT:
       
      "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang sewajarnya ketika mana mereka berkata: Allah tidak menurunkan sesuatu pun untuk manusia.” (Al-An’am: 91)


      IBNU KATSIR(Bab tauhid uluhiyyah

      "Hai manusia", sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.
      Allah Swt. menjelaskan tentang sifat uluhiyyah-Nya Yang Maha Esa, bahwa Dialah yang memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tiada ke alam wujud, lalu melimpahkan kepada mereka segala macam nikmat lahir dan batin. Allah menjadikan bagi mereka bumi sebagai hamparan buat tempat mereka tinggal, diperkokoh kestabilannya dengan gunung-gunung yang tinggi lagi besar; dan Dia menjadikan langit sebagai atap, sebagaimana disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
      {وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ}
      Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedangkan mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. (Al-Anbiya: 32)
      Allah menurunkan air hujan dari langit bagi mereka. Yang dimaksud dengan lafaz as-sama dalam ayat ini ialah awan yang datang pada waktunya di saat mereka memerlukannya. Melalui hujan, Allah menumbuhkan buat mereka berbagai macam tumbuhan yang menghasilkan banyak jenis buah, sebagaimana yang telah disaksikan. Hal tersebut sebagai rezeki buat mereka, juga buat ternak mereka, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ayat lainnya. Di antara ayat-ayat tersebut yang paling dekat pengertiannya dengan maksud ini ialah firman-Nya:
      {اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا  وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}
      Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian, lalu membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan kalian, Maha-agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Mu’min: 64)
      Kesimpulan makna yang dikandung ayat ini ialah bahwa Allah adalah Yang Menciptakan, Yang memberi rezeki, Yang memiliki rumah ini serta para penghuninya, dan Yang memberi mereka rezeki. Karena itu, Dia sematalah Yang harus disembah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana yang dinyatakan di dalam ayat lain:

      {فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ}
      Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 22)
      Di dalam hadis Sahihain disebutkan dari Ibnu Mas'ud yang menceritakan:

      قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: "أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا، وهو خلقك" الحديث
      Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab, "Bila kamu mengadakan sekutu bagi Allah, padahal Dialah Yang menciptakanmu,'" hingga akhir hadis.
      Demikian pula yang disebutkan di dalam hadis Mu'az yang menyebutkan
      "أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ؟ أَنْ يَعْبُدُوهُ لَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا" الْحَدِيثَ
      Tahukah kamu apa hak Allah yang dibebankan pada hamba-hamba-Nya?" lalu disebutkan, "Hendaklah mereka menyembah-Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun," hingga akhir hadis.

      Hal yang sama dikatakan pula dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekulu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 22) Maksudnya, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu dengan tandingan-tandingan yang tidak dapat menimpakan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat, padahal kalian mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang memberi rezeki kepada kalian selain Allah. Kalian telah mengetahui apa yang diserukan oleh Muhammad kepada kalian —yaitu ajaran tauhid— adalah perkara yang hak yang tiada keraguan di dalamnya. Demikian pula menurut Qatadah.
      Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr ibnu Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Dahhak ibnu Mukhallad alias Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Syabib ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya, "Fala taj'alu lillahi andadan." Istilah andad yaitu sama dengan mempersekutukan Allah, syirik itu lebih samar daripada rangkakan semut di atas batu hitam yang licin di dalam kegelapan malam.
      Contoh perbuatan syirik (atau mempersekutukan Allah) ialah ucapan seseorang, "Demi Allah dan demi hidupmu, hai Fulan, dan demi hidupku." Juga ucapan, "Seandainya tidak ada anjing, niscaya maling akan datang ke rumah kami tadi malam," atau "Seandainya tidak ada angsa, niscaya maling memasuki rumah kami." Demikian pula ucapan seseorang kepada temannya, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki olehmu." Juga ucapan, "Seandainya tidak ada Allah dan si Fulan," semuanya itu merupakan perkataan yang menyebabkan kemusyrikan.
      Di dalam hadis disebutkan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw., "Ini adalah yang dikehendaki Allah dan yang dikehendaki olehmu." Maka beliau Saw. bersabda:
      "أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ نِدًّا"
      Apakah kamu menjadikan diriku sebagai tandingan Allah?
      Di dalam hadis lain disebutkan:
      "نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ، لَوْلَا أَنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ، تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ، وَشَاءَ فُلَانٌ".
      Sebaik-baik kaum adalah kalian jikalau kalian tidak melakukan tandingan (terhadap Allah), (karena) kalian mengatakan, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh si Fulan."
      Abul Aliyah mengatakan, makna andadan dalam firman-Nya, "Fala taj'alu lillahi andadan," ialah tandingan dan sekutu. Demikian dikatakan oleh Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah, As-Saddi, Abu Malik, dan Ismail ibnu Abu Khalid.


      "Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian dan memberi kalian rezeki. Maka sembahlah Dia oleh kalian, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."



      Abu Nuwas pernah ditanya mengenai masalah ini. Ia berkata melalui syair-syairnya, yaitu:
      تَأَمَّلْ فِي نَبَاتِ الْأَرْضِ وَانْظُرْ ... إِلَى آثَارِ مَا صَنَعَ الْمَلِيكُ ...
      عُيُونٌ مِنْ لُجَيْنٍ شَاخِصَاتٌ ... بِأَحْدَاقٍ هِيَ الذَّهَبُ السَّبِيكُ ...

      عَلَى قُضُبِ الزَّبَرْجَدِ شَاهِدَاتٌ ... بِأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ لَهُ شَرِيكُ ...

      Renungkanlah kejadian tumbuh-tumbuhan di bumi ini dan perhatikanlah hasil-hasil dari apa yang telah dibuat oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Air yang jernih bak perak memenuhi parit-parit yang bagaikan emas cetakan mengairi lahan-lahan yang indah bagaikan batu permata zabarjad, semuanya itu merupakan saksi yang membuktikan bahwa Allah tiada sekutu bagi-Nya.
      Ibnul Mu'taz mengatakan:
      فَيَا عَجَبًا كَيْفَ يُعْصَى الْإِلَهُ ... أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ ...
      وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةً ... تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ ...
      Alangkah anehnya, bagaimanakah seseorang berbuat durhaka kepada Tuhan, dan bagaimanakah seseorang mengingkari-Nya, padahal segala sesuatu merupakan pertanda baginya yang menunjukkan bahwa Tuhan adalah Esa.